Lompat ke konten
Beranda | Langkah Cepat Dalam Informasi Berita Indonesia dan Internasional Terkini | Harga Emas Turun dari Rp3 Juta ke Rp2,7 Juta per Gram, Pengamat Sebut Saat Tepat untuk Investasi Jangka Panjang

Harga Emas Turun dari Rp3 Juta ke Rp2,7 Juta per Gram, Pengamat Sebut Saat Tepat untuk Investasi Jangka Panjang

Harga Emas Turun dari Rp3 Juta ke Rp2,7 Juta per Gram, Pengamat Sebut Saat Tepat untuk Investasi Jangka Panjang

JAKARTA – Harga logam mulia atau emas kembali mengalami koreksi setelah sempat mencetak rekor tertinggi di atas Rp3 juta per gram pada awal tahun 2026. Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang menarik bagi investor yang memiliki orientasi investasi jangka panjang.

Pengamat keuangan Ariston Tjandra mengatakan investor tidak perlu terlalu fokus menunggu harga emas mencapai titik terendah sebelum melakukan pembelian. Menurutnya, prospek kenaikan harga emas dalam jangka panjang masih sangat terbuka.

“Jadi koreksi harga emas yang sekarang ini pun bisa dimanfaatkan untuk pembelian emas jangka panjang,” kata Ariston, Minggu (15/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa meskipun harga emas mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir, memprediksi level terendah harga emas secara akurat sangat sulit dilakukan. Oleh karena itu, strategi akumulasi secara bertahap dinilai lebih realistis bagi investor.

Ariston menilai salah satu faktor yang masih menopang harga emas adalah tingginya permintaan dari bank sentral berbagai negara yang terus menambah cadangan emas mereka sebagai aset lindung nilai.

Selain itu, sentimen global juga turut memengaruhi pergerakan harga emas. Salah satunya adalah optimisme pasar terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Jika kesepakatan tersebut benar-benar terwujud, ketegangan geopolitik global diperkirakan mereda dan berdampak pada pergerakan sejumlah instrumen investasi.

“Dengan adanya perdamaian, Selat Hormuz akan terbuka penuh untuk jalur perdagangan, terutama minyak. Harga minyak berpotensi turun, beban ekonomi berkurang, dan investor kemungkinan keluar dari aset dolar AS sehingga nilai tukar dolar melemah,” jelasnya.

Dalam kondisi tersebut, harga emas dan mata uang negara berkembang seperti rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS.

Sementara itu, pengamat pasar uang Lukman Leong mengatakan koreksi harga emas sebelumnya dipicu oleh penguatan dolar AS setelah rilis data ekonomi Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan pasar.

Namun menjelang akhir pekan, harga emas kembali mengalami penguatan karena meningkatnya harapan terhadap tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran.

“Emas rebound cukup kuat menjelang akhir pekan karena harapan kesepakatan damai AS-Iran yang diperkirakan bisa terjadi dalam beberapa hari ke depan,” ujarnya.

Menurut Lukman, fluktuasi harga emas saat ini memang menarik bagi para trader jangka pendek. Namun bagi investor jangka panjang, kondisi koreksi justru menjadi kesempatan untuk menambah kepemilikan emas.

Ia menilai apabila kesepakatan damai benar-benar tercapai, harga emas berpotensi kembali bergerak naik dalam waktu relatif singkat.

“Turunnya harga emas saat ini justru menjadi peluang bagi investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi. Jika kesepakatan damai benar-benar terjadi, harga emas bisa kembali naik dengan cepat,” katanya.

Berdasarkan data harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam), harga emas sempat mencapai rekor Rp3.135.000 per gram pada awal Maret 2026. Namun hingga pertengahan Juni 2026, harga emas terkoreksi menjadi Rp2.711.000 per gram.

Meski mengalami penurunan, banyak analis masih optimistis terhadap prospek emas sebagai aset safe haven yang mampu menjaga nilai investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global dan dinamika geopolitik dunia.

Tinggalkan Balasan